1, 2, 3, klik, kututup hatiku.
‘Kamu semalem sms gitu kenapa?’ “Ah, engga”. Padahal aku
ingin menjawab “sebenarnya aku menyadari diri ini belum pantas, belum mampu
untuk kehidupan seperti yang dulu kita inginkan. Terlalu banyak yang tidak ku
mengerti, terlalu banyak yang tidak bisa kuimbangi. Mungkin memang aku bukan
yang terbaik untukmu.”
‘Sebenernya ada apa? Tolong jelasin, jangan pakai emosi. Aku
butuh penjelasan yang rasional.’ “Engga, aku udah bilang kan semalem, semuanya
udah jelas, maafin aku selama ini selalu salah memperlakukan kamu kaya gini. Ga
seharusnya aku kaya gini ya? Maaf aku selalu buat kamu yang salah, mulai
sekarang aku ga akan lagi sms kamu, telepon kamu, atau menghubungi kamu dengan
cara apapun.”
Tik. Tik. Tik. Satu jam. Dua jam. Sehari. Masih belum ada
jawaban. Apakah benar sangkaku kini? Sudah terlalu banyak sehingga sulit
dijelaskan. Janji terakhir itu, rasanya final.
Tapi rindu itu membunuh tekadku.
Ping!
Tetap tak ada jawaban.
Perlahan mata sembab. Tak terasa air matapun mengalir.
Kilasan masa lalupun membayang..
Saat aku salah. Saat dia juga salah. Saat kita tertawa. Saat
kita marah. Saat kita melakukan kekonyolan. Saat kita tersenyum. Saat kita
saling benci. Saat kau menangis. Saat aku menangis. Saat kita sama-sama
memahami. Saat kita…
Ah sudahlah, tak ada yang perlu dipikirkan.
Yang tak disangka adalah, kenapa?
Kenapa setelah semua ingin kita wujudkan salah paham itu
ada?
Dan rindu itu membunuh lagi dari dalam.
Bandung, 1 Maret 2014
akan indh pada waktunya,, jawaban itu,, lebih baik telah terjadi dari saat kini,, karena jika ditunda esok, esok, dan esok,, rasa sakitnya akan semakin mendalam,, sebab akan semakin banyak pula kenangan yang akan terbesrit setelahnya,, :')
ReplyDeletebuka dong buat akuuuu.. wakkakakak
ReplyDelete