Apanya yang imbang?
Kau menitipkanku pada rasa bersalah yang asing.
Sedang aku menitipkanmu pada rasa kecewa yang panjang.
Begitulah sekilas kutipan dari seorang teman di satu media sosial. Singkat memang. Tapi membacanya, membawa aku ke kilas balik masa lalu..
-1 year ago
"Now you lose and lost, dear. Can't believe that it happens" komenku pada satu media sosial yang masih men tag aku dan tentunya dia. Di salah satu momen dimana aku dan dia dulu masih suka berkompetisi, siapa yang paling unggul dalam game M***on R**h.
"That's your choice. So what?" balasnya. Tidak lama setelah aku merasa begitu rindu, dan tanpa disangka, dia membalas, untuk pertama kalinya setelah perpisahan itu. Entah mungkin juga untuk yang terakhir kalinya.
"You too. No, just reflection about past. Maybe i'll be better without you, and you absolutelly better than me." Harapku. Tak pernah sedikitpun, dalam perpisahan ini, aku ingin memikirkan tentang balas dendam. Tak pantas, dan aku tahu, aku telah menyakiti dia lebih jauh.
"I'm no better now... you should know.." balasnya.
"We just learn to life, learn to live, and learn to be better. Just hope you happy and be success as your dream."
"Bukannya kau seharusnya lebih baik tanpa aku, yang selalu memaksamu datang tiap Sabtu dan Minggu. Memarahi kau di sepanjang perjalanan hanya karena kau datang telat, menggerutu, bahkan saat kau ada di samping." belaku atas perpisahan yang tidak pernah adil, bagiku, maupun baginya.
...
...
...
1 bulan, dan dia sudah tak berniat membalas apapun itu respon yang ingin kusampaikan padanya.
Kau tau, cinta?
Sulit bagiku untuk melepasmu, tapi harus apalagi, ketika ada hal-hal yang semestinya menyatu namun tak dapat kita satukan. Dan aku tau betul, perpisahan ini sangat tidak adil buatmu, yang telah berlari jauh mengejarku, ku sambut, namun pada akhirnya harus ku lepas lagi. Tidak hanya sakit buatmu, bagiku pun begitu. Tak hanya 4 tahun romansa, tapi kau juga sudah ada dalam daftar masa depan. Tempat yang ingin kukunjungi berdua, nama anak yang ingin aku gunakan nanti, tempat dimana kita akan tinggal, waktu yang akan kita habiskan berdua, semua masih tentangmu.
Aku tahu betul bahwa melepasmu bukan hanya harus menorehkan luka di hatimu namun juga merobek lembaran yang sudah aku susun serapi mungkin.
Tapi apadaya aku?
Aku manusia. Kamupun begitu. Hanya Allah yang mempu merubah rencana dan mimpi kita. And its happens!
Bukan salah kamu, bukan salah aku, tapi kita berdua memiliki andil dalam perpisahan yang telah terjadi. Good news, mungkin ini menjadikanmu sosok yang lebih baik? Entahlah, aku tak pernah kau izinkan untuk mencari tahu. Bad news, aku masih saja menyimpan lembaran mimpi itu. Parah? Bodoh, bilang saja aku begitu, tapi kau masih selalu ada disitu. Aku ingin pergi, tapi aku tau takkan bisa. dan kalaupun kamu yang mau pergi, aku tau aku takkan bisa menahannya.
Itulah, mengapa rasa bersalah itu masih selalu ada. Kau berlari mengejarku, dan aku malah meninggalkanmu. Menciptakan rasa bersalah, lagi, dan lagi. Menciptakan kecewa buatmu? Ya, lagi, dan lagi.
Maafkan aku..
Kau pun harus tau bahwa tak semudah itu aku pergi darimu.
No comments:
Post a Comment