Barangkali yang membuat saya resah, gelisah, bosan, marah,
dan terpenjara akhir-akhir ini mungkin suatu kesadaran. Kesadaran akan
kehilangan kebebasan yang dulu, dengan mudah saya dapatkan. Dulu, mau foto
dengan gaya apapun, bebas. Mau bicara dengan siapapun, hayu. Mau ribut dengan
cara bagaimanapun, oke. Mau berontak, silahkan, maklum, masa remaja. Apapun
yang ada di pikiran, keluar tanpa disaring. Toh, kita memang masanya mencari
jati diri. Wajar kalau salah, namanya juga penjajakan, belajar menemukan arti
yang sebenarnya. Berkawan tanpa melihat status, cara pikir, usia, kondisi,
siapapun, oke kita berteman, aku enjoy, kamu enjoy. Feel free. Itu masa SMK
(baca:remaja).
Sekarang menginjak bangku kuliah, cara pikir mulai
terbentuk, apa yang akan dilakukan, dipertimbangkan konsekuensinya untuk masa
depan, mau difoto dengan gaya norak/alay, merasa diri jelek, ini kan masa
pencarian jodoh, gamau dong terlihat jelek. Kamuflase. Mau bicara dengan
siapapun atau bagaimanapun, harus dipertimbangkan. If I use this sentence to
her, it make her angry? It make him disappointed? Mulai tidak jujur. Kamuflase.
Lagi. Mau ribut dan cari masalah, pandangan orang lain akan menilai dan
berkata, hey you, bisakah kamu berhenti menjadi remaja dan lihat ke depan?
Waktumu sangat berharga untuk digunakan dalam hal-hal lain daripada mencari
masalah. Kamuflase, kan? Again! Mau berontak, heyy, that’s your choice! Berasa
mengekang hidup sendiri.
Sebenernya, apa sih arti dewasa? Orang bilang mampu
membedakan yang baik dan yang buruk. Membedakan doang sih sebenernya anak kecil
dan remaja juga bisa. Yang membedakan dewasa atau engganya mungkin pada
pilihannya kali yahh. Orang dewasa itu mampu membedakan yang baik da buruk
SERTA memilih apa yang baik baginya. Tapi kan terkadang yang baik ituu gak
selamanya bikin kita bahagia. Itu sih yang bikin saya, yang pengen jadi dewasa
merasa dewasa itu suatu tahap kamuflase yang harus dan wajib dilaksanakan.
Dimana-mana orang bilang yang baik itu akan selalu jadi pilihan. Tapi kan ga
selamanya baik pandangan orang lain itu baik juga buat hati dan perasaan kita.
Itu sih kata aku yahh yang perempuan, dan rata-rata masih
menyelipkan unsur hati dan perasaan alias emosi di setiap keputusan. Tapi
beneran deh, jadi dewasa itu yang aku tangkep nih cuma kamuflase. Konsekuensinya
harus mulai mikirin pertimbangan yang baik baik daaan mulai menyampingkan ego
di setiap tindakan. Kerasa banget kalo dewasa itu banyakan ga enaknya daripada
enaknya. Masa kanak-kanak mungkin membahagiakan yah, tanpa beban kita bebas
berlari, bermain, tertawa, menangis, dan bercanda. Masa remaja itu masa yang
sangaaaaaat berkesan, dimana kita (walaupun tau) kadang meresikokan kebaikan
kita sendiri demi menemukan jati diri. Mau jadi apa sih kita entar, cocoknya
temenan sama siapa sih kita, sukanya jenis music yang gimana sih kita. Berasa
nemu diri kita yang sebenarnya, dimana kita bebas, lepas, dan ga tergantung
sama siapapun.
No comments:
Post a Comment