Sunday, December 8, 2013

Mekanisme Pencernaan

Makhluk hidup memerlukan makanan untuk melangsungkan kehidupannya dalam memperoleh energi yang diperoleh dari makanan yang dikonsumsi organisme lewat suatu sistem yang disebut digestion atau lebih dikenal dengan sistem pencernaan. Pada pencernaan tersangkut suatu seri proses mekanis dan kimiawi dan dipengaruhi oleh banyak faktor.
Sistem perncernaan adalah sistem organ dalam hewan multisel yang menerima makanan, mencernanya menjadi energi dan nutrient untuk digunakan oleh sel-sel tubuh secara fisika maupun kimia serta mengeluarkan sisa proses tersebut melalui dubur. Proses pencernaan pada manusia terbagi menjadi 5 tahap, yaitu
·         Injesti: proses menaruh atau memasukkan makanan di mulut.
·         Pencernaan Mekanik: proses mengubah makanan menjadi kecil dan lembut. Pencernaan mekanik dilakukan oleh gigi dan alat bantu lain seperti batu kerikil pada burung merpati. Proses ini bertujuan untuk membantu untuk mempermudah proses pencernaan kimiawi. Proses ini dilakukan secara sadar.
·         Pencernaan Kimiawi: proses mengubah molekul-molekul zat makanan yang kompleks menjadi molekul-molekul yang lebih sederhana sehingga mudah dicerna. Pencernaan kimiawi dilakukan oleh enzim, asam, ‘bile’, dan air. Proses ini dilakukan secara tidak sadar karena yang mengaturnya adalah enzim.
·         Penyerapan: gerakan nutrisi dari sistem pencernaan ke sistem sirkulator dan ‘lymphatic capallaries’ melalui osmosis, transport aktif, dan difusi.
·         Pembuangan: penyingkiran/pembuangan material yang tidak dicerna dari ‘tract’ pencernaan melalui defekasi.

Kamuflase!!


Barangkali yang membuat saya resah, gelisah, bosan, marah, dan terpenjara akhir-akhir ini mungkin suatu kesadaran. Kesadaran akan kehilangan kebebasan yang dulu, dengan mudah saya dapatkan. Dulu, mau foto dengan gaya apapun, bebas. Mau bicara dengan siapapun, hayu. Mau ribut dengan cara bagaimanapun, oke. Mau berontak, silahkan, maklum, masa remaja. Apapun yang ada di pikiran, keluar tanpa disaring. Toh, kita memang masanya mencari jati diri. Wajar kalau salah, namanya juga penjajakan, belajar menemukan arti yang sebenarnya. Berkawan tanpa melihat status, cara pikir, usia, kondisi, siapapun, oke kita berteman, aku enjoy, kamu enjoy. Feel free. Itu masa SMK (baca:remaja).
Sekarang menginjak bangku kuliah, cara pikir mulai terbentuk, apa yang akan dilakukan, dipertimbangkan konsekuensinya untuk masa depan, mau difoto dengan gaya norak/alay, merasa diri jelek, ini kan masa pencarian jodoh, gamau dong terlihat jelek. Kamuflase. Mau bicara dengan siapapun atau bagaimanapun, harus dipertimbangkan. If I use this sentence to her, it make her angry? It make him disappointed? Mulai tidak jujur. Kamuflase. Lagi. Mau ribut dan cari masalah, pandangan orang lain akan menilai dan berkata, hey you, bisakah kamu berhenti menjadi remaja dan lihat ke depan? Waktumu sangat berharga untuk digunakan dalam hal-hal lain daripada mencari masalah. Kamuflase, kan? Again! Mau berontak, heyy, that’s your choice! Berasa mengekang hidup sendiri.
Sebenernya, apa sih arti dewasa? Orang bilang mampu membedakan yang baik dan yang buruk. Membedakan doang sih sebenernya anak kecil dan remaja juga bisa. Yang membedakan dewasa atau engganya mungkin pada pilihannya kali yahh. Orang dewasa itu mampu membedakan yang baik da buruk SERTA memilih apa yang baik baginya. Tapi kan terkadang yang baik ituu gak selamanya bikin kita bahagia. Itu sih yang bikin saya, yang pengen jadi dewasa merasa dewasa itu suatu tahap kamuflase yang harus dan wajib dilaksanakan. Dimana-mana orang bilang yang baik itu akan selalu jadi pilihan. Tapi kan ga selamanya baik pandangan orang lain itu baik juga buat hati dan perasaan kita.
Itu sih kata aku yahh yang perempuan, dan rata-rata masih menyelipkan unsur hati dan perasaan alias emosi di setiap keputusan. Tapi beneran deh, jadi dewasa itu yang aku tangkep nih cuma kamuflase. Konsekuensinya harus mulai mikirin pertimbangan yang baik baik daaan mulai menyampingkan ego di setiap tindakan. Kerasa banget kalo dewasa itu banyakan ga enaknya daripada enaknya. Masa kanak-kanak mungkin membahagiakan yah, tanpa beban kita bebas berlari, bermain, tertawa, menangis, dan bercanda. Masa remaja itu masa yang sangaaaaaat berkesan, dimana kita (walaupun tau) kadang meresikokan kebaikan kita sendiri demi menemukan jati diri. Mau jadi apa sih kita entar, cocoknya temenan sama siapa sih kita, sukanya jenis music yang gimana sih kita. Berasa nemu diri kita yang sebenarnya, dimana kita bebas, lepas, dan ga tergantung sama siapapun.