Sunday, September 29, 2013

Janji. Manis dan Pahit.

Merasa dipermainkan. Apa maksudmu hei? Mengingkari janji? Melanggar komitmen? Sudah kali yang keberapa? Kupikir kau benar-benar lupa. Ternyata...
Kau tahu, orang bilang lupa sekali itu biasa. Tak apa. Lupa kedua kali itu wajar. Lupa ketiga manusiawi. Apalagi kakek-kakek. Tapi kamu? Bahkan tak sedikit aku ungkap karena berharap kau ingat. Nyatanya apa?
Semakin sering kau ucap janji manis, semakin ku merasa sinis. Semakin sering kau ucap kata manis, disaat itu pula aku miris. Sampai kapan kau BERHENTI MEMBUATKU BERHARAP???
Kau tahu, aku tak butuh janji yang melambung jauh. Menggapai bintang, mendekap bulan, tak perlu aku dengar kata puitus itu. Kurasa aku dan kau tau kita sama-sama realistis. Tak perlu janji manis, tak perlu kata puitis, tak perlu hal hal mistis.
Tapi mungkin, lidah itu tak ingin perhatikan keadaan. Di saat kau ucap, kau simpan dalam memori, tak sengaja kau hapus pula memori itu. Tak tau bahwa memori lain menyimpan pula kenangan itu.
Berharap semua terwujud, seperti apa yang orang bilang, semua indah pada waktunya.
Entahlah, tapi indah yang kutunggu tak jua muncul. Terkadang sesaat bahagia, tapi di saat lain cemas, akankah semua ini menjadi nyata?
Kini jelaslah sudah, aku tak bisa lagi mengharapkanmu mengerti, atau setidaknya tahu, bahwa aku hanya perindu. Korban yang rindu janji manismu, yang mana.....
Tak akan pernah kau tepati.
