Kembali ke kamar, kuhamparkan sajadah. Kukenakan mukena. Allahu Akbar. Terasa meresap ke dalam hati. Ada rasa takut, rindu, bahagia, sedih, penyesalan, dan lain-lain. Kutahan. Kutahan curhatanku untuk nanti setelah selesai berdo'a. Tapi entah mengapa air mata ini lagi-lagi menetes. Ada rasa sedih yang tak tertahankan yang terus menghinggapi. Baru menyadari makna setiap surat yang aku lafalkan. Semakin aku merasa kecil. Kecil. Kecil. Kecil sekali. Apalah dayaku ini melawan kehendak-Nya? Kuteruskan shalatku hingga usai. Tak terasa air mata terus mengalir mengingat dosa yang pernah diperbuat. Ya Rabb, masih pantaskah aku ada si bumiMu?
Selesai shalat, kuteruskan dengan dzikir. Betapa agungnya engkau ya Rabb. Lagi, baru kusadari kali ini. Kemana saja aku? Kemana diriku? Entahlah, aku tak tau. Yang aku tau, kini aku menikmati malam ini dengan menyadari cintaMu padaku.
Sehabis ritual tersebut, kuadukan diriku. Ya Rabb, siapakah aku? Kemana saja aku selama ini? Mengapa baru kusadari indahnya itu sekarang? Mengapa baru kusadari cintaMu yang begitu besar baru sekarang? Ada apa dengan dahulu? Terlalu butakah aku untuk melihat cintaMu? Terlalu tulikah aku untuk mendengar seruanMu? Terlalu bisukah aku untuk menjawab panggilanMu? Terlalu lumpuhkah aku untuk mengikuti jalanMu?
Ya Rabb, bila aku buta, berikanlah cahaya penerang yang mampu menuntunku untuk melihat jalan menuju RidhoMu. Bila aku tuli, tegurlah aku untuk terus mendengar seruanMu. Bila aku bisu, berilah aku hidayah untuk menjawab setiap panggilanMu. Bila aku lumpuh, berikanlah aku kekuatan untuk terus berada di jalanMu.
Apa dayaku untuk merubah masa lalu? Tak ada. Apa kekuasaanku untuk menghapus dosaku? Tak ada. Apa mampuku untuk menjamin hati ini tak berpaling dariMu? Iman. Maka dari itu ya Rabb, berikanlah aku Iman yang teguh, yang mampu menolak godaan. Berikan aku hati yang selalu bersyukur, untuk menghindarkanku dari godaan dunia. Berikan aku hidayah yang mampu mengingatkanku untuk tetap berada di jalanMu.
